6 Kebiasaan Buruk Atasan & Cara Mengatasinya

Datang terlambat, makan siang sampai lewat jam makan, pulang lebih awal dari waktunya, tak pelak lagi akan membuat manajemen menjadi rapuh. Salah satu bentuk yang berbahaya dari kebiasaan buruk tersebut adalah kita baru sadar dengan apa yang telah kita kerjakan saat semuanya sudah terlambat. Nah, Anda tak mau seperti itu, bukan? Coba, deh, baca daftar berikut. Bila Anda memiliki salah satu dari daftar kebiasan buruk ini, kini saatnya untuk memperbaiki gaya manajemen kepemimpinan Anda. 1. Tidak supel pada klien Jika Anda terkesan enggan untuk berbicara pada klien, tidak sabar dengan segala macam pertanyaan yang diajukannya atau malas membantunya menolong memecahkan masalahnya, maka staf Anda pun akan melihat dan meniru. Mereka berpikir memiliki hak untuk melakukan hal yang sama terhadap klien / pelanggan. Tindakan ini akan menjadikan bumerang bagi Anda. Segera tinggalkan perilaku ini mengingat sebegitu besar arti pelanggan/klien bagi perusahaan. Coba ikuti pelatihan tentang memberi pelayanan atau servis yang baik terhadap konsumen. Jangan lupa, pembeli adalah raja, bukan? Dengan kata lain, jika perusahaan sukses, berarti Anda juga akan tetap bisa “hidup”, dan bisa hidup yang lebih layak. 2. Memanfaatkan kekuasaan dengan menyelewengkan waktu Apakah Anda bangun pagi terlambat? Memesan lagi secangkir kopi pada saat makan siang untuk memperpanjang waktu istirahat? Berhenti bekerja lebih awal dari jam kantor agar tidak terjebak kemacetan lalu lintas? Inikah kebiasaan-kebiasaan buruk yang Anda lakukan? Kalau ya, Anda tidak akan pernah bisa menindak atau menegur karyawan atau bawahan ketika mereka juga makan siang selama 70 menit atau datang 15 menit terlambat dengan alasan macet. Mungkin hal itu memang sudah menjadi kebiasaan Anda. Tapi apa pun juga, sebagai seorang profesional dan pimpinan, sebaiknya hal itu tidak dilakukan. Kekuasaan yang Anda miliki bukan untuk digunakan sesuka hati. Jangan lupa, Anda adalah panutan bawahan. Jangan sampai sikap buruk ini menular dan mengilhami rekan kerja yang lain. 3. Menunjukkan ketidakpuasan secara terbuka Wajar dan amat bisa dimengerti jika Anda merasa terbebani dengan banyak tugas atau mendapat teguran dari bos karena ada pekerjaan yang kurang beres. Namun sangat tak wajar bila rasa stres dan ketidakpuasan pada bos disampaikan alias diceritakan pada rekan kerja lain. Apalagi, sambil mengumpat dan menjelek-jelekkan si bos. Tim kerja akan merasa “panik” dan khawatir mendengar keluhan atau ketidakberesan dari manajemen tingkat atas dan ini bisa melahirkan situasi tak sedap. Misalnya saja, hilangnya rasa hormat terhadap pimpinan, yang dimulai dari Anda sendiri. Jika Anda merasa benar, carilah waktu yang tepat dan orang yang tepat pula, di mana Anda dapat mengeluarkan uneg-uneg dan mempertahankan pendapat Anda. Mungkin bisa juga dengan pasangan, teman dekat yang dapat dipercaya. Mereka pasti tidak akan menjatuhkan Anda dan Anda sendiri pun merasa aman. 4. Berpenampilan tidak profesional Zaman sekarang, masyarakat selalu tampil dengan gaya. Pendek kata, penampilan menjadi penting. Jika Anda tidak peduli akan penanpilan, berarti Anda juga cuek pada hal lain. Situasi akan memburuk jika karyawan lain meniru kebiasaan Anda sehingga membuat departemen Anda tidak sedap dipandang mata. Kalau Anda merasa tidak ada seorang pun yang memperhatikan Anda, coba lakukan penelitian kecil-kecilan. Berdandanlah layaknya seorang profesional lalu catat dan tulis reaksi dari orang di sekitar Anda setiap hari. Anda akan terkejut melihat hasil yang didapat! 5. Mengambil barang atau keuntungan perusahaan Mungkin Anda berpikir, tak masalah mengambil sedikit barang yang ada di perusahaan, atau yang diproduksi oleh perusahaan, atau bahkan uang yang tidak dicek pengeluarannya. Jika hal seperti ini diketahui bawahan dan rekan kerja lainnya, jangan heran kalau mereka meniru Anda. Jelas, perilaku ini bisa mencelakakan karier Anda, bahkan mungkin membawa Anda ke penjara. Jadi, buang jauh-jauh sifat yang merugikan ini. 6. Bersikap terlalu akrab Bertingkah laku seolah-olah terlalu akrab atau terlalu romantis dengan salah satu karyawan, dapat menyebabkan karyawan lain menjadi iri. Jika mencari teman, cobalah dengan cara mengembangkan suatu aktivitas seperti berkumpul bersama sehingga tercita keakraban sebagai keluarga besar. Ini juga penting untuk menghindari gosip bahwa Anda dekat dengan si X karena memiliki hubungan khusus. Anda tak ingin, kan, suasanan kerja di bagian Anda diwarnai gosip murahan?

Dipublikasi di boss | Tinggalkan Komentar

Agar Terhindar Affair (2)

Foto: Daniel Supriyono (NOVA)

Cari Cara Akhiri Percakapan
Pelajari cara sopan untuk keluar dari percakapan yang sedang berlangsung hangat. Jika rekan pria mulai membagi persoalan pribadi atau curhat, artinya Anda sedang terlibat dalam hubungan lebih dalam. Segera akhiri percakapan dengan sopan.

Misalnya, “Wah, serius sekali ya, tapi saya tak tahu harus berkata apa. Jika di posisi Anda, akan saya bicarakan dengan orang yang memahami benar diri saya. Berkonsultasi dengan orang bijak atau konselor.”

Sehingga, Anda tak harus membagi bahu untuk dirinya bersandar dan tak terlibat keintiman yang bisa membuka peluang perselingkuhan.

Jangan Sampai Curhat!
Di saat terlibat percakapan dengan rekan kerja pria, pastikan Anda tak membuka kehidupan pribadi terlalu banyak. Bukan berarti tak bisa bersikap sopan. Batasan ini penting untuk menjauhkan diri dari risiko perselingkuhan.

Bila rekan tadi bercerita soal liburan yang baru saja dilakukannya, Anda boleh menanyakan pengalamannya. Tapi, jangan membandingkannya dengan liburan Anda. Atau mengatakan, Anda telah memimpikan hal itu selama bertahun-tahun.

Jujur Kepada Diri Sendiri
Terkadang orang meyakinkan diri untuk bisa meraih energi tambahan dengan melakukan sedikit ‘kenakalan’ di luar kantor. Lalu berkilah, tak akan melakukannya lebih jauh. Bagaimanapun, cobalah tanyakan kepada diri, “Apa yang akan pasangan Anda rasakan bila mengetahuinya?”

Hati-hati, Anda bisa terjerumus ke dalam pesona si lawan jenis tanpa disadari. Jika menganggap godaan yang dilemparkan tak berbahaya, sebaiknya tanyakan kepada diri, apakah Anda bisa jujur mengatakannya kepada pasangan soal itu?

Jika Anda menganggap interaksi dengan rekan pria normal-normal saja, coba tanyakan juga kepada diri, apakah pasangan akan sependapat dengan Anda?

Hindari Ritual Peluk Cium
Ini mungkin terdengar sedikit ekstrem. Tapi ingat, satu pelukan saja bisa mendatangkan keintiman. Meski itu hanya bersifat seremonial. Pelukan sesederhana apapun bisa mengubah hubungan atau persepsi kedua belah pihak, lho!

Sebenarnya, Anda bisa menolak ritual itu secara sopan dengan mengatakan, Anda sedang flu. Anda bisa menggantinya dengan jabat tangan erat untuk memberi imej lebih hangat, tanpa memberi sinyal intimasi. Intinya, Anda tak harus mengikuti kebiasaan peluk cium, meski itu wajar saja di dunia pekerjaan.

Komitmen Kepada Pasangan
Lakukan hal unik untuk menyenangkan pasangan. Misalnya, meninggalkan catatan manis di pintu lemari es, meneleponnya di sela waktu bekerja, atau merencanakan kejutan makan malam.

Tujuannya, agar pasangan tetap ingat, betapa istimewanya ia untuk Anda. Jangan lupa, tetaplah fokus pada hal-hal baik yang sudah dilakukan pasangan kepada Anda. Misalnya, memajang foto pasangan dan anak, atau hewan piaraan di meja kerja.

Cara ini bisa membantu untuk tetap fokus dan mengingat betapa besar cinta yang sudah Anda miliki dalam hidup, meski keluarga berada jauh dari kantor.

Dipublikasi di rekan kerja | Tinggalkan Komentar

Agar Terhindar Affair (1)

Pekerjaan menawarkan banyak hal dalam hidup. Penghasilan, kebanggaan, kepuasan, kecakapan, dan masih banyak lagi. Termasuk hubungan sosial yang makin kaya.

Bila tak pandai mengatur sikap atau memilah urusan, kantor bisa menjadi lahan subur bagi tunas-tunas perselingkuhan. Apalagi jika waktu yang dihabiskan bersama rekan kerja lebih banyak dan berkualitas ketimbang bersama pasangan.

Lama-lama, masalah ini akan menggusur prioritas hidup. Sehingga Anda merasa sayang bila harus kehilangan waktu bersama sang rekan. Dan membuat Anda makin sulit mengambil sikap untuk melepaskan dari hubungan terlarang itu.

Padahal, sudah banyak perusahaan melarang keras para karyawannya menjalin hubungan sekantor. Bahkan menetapkan sanksi berat, mulai dari mutasi hingga pemutusan hubungan kerja.

Nah, agar masalah perselingkuhan di kantor ini tak merusak reputasi baik yang sudah Anda bangun, sebaiknya ikuti trik berikut!

Lakukan Hanya Di Kantor
Anda tentu tak ingin kehilangan hubungan baik dengan rekan kerja, kan? Namun, Anda tak harus menghilangkan batas demi membina hubungan baik dengannya. Jagalah pembicaraan hanya soal pekerjaan, walau tetap berlangsung hangat.

Sesekali saja tanyakan kabar anaknya atau keluarganya. Tapi, jangan sampai berbincang intim hingga ke soal pengalaman liburannya selama berjam-jam. Anda bisa saja mengambil sikap untuk mengakhiri perbincangan yang sudah mulai tak jelas arahnya atau terlalu lama.

Hindari Rapat Di Luar Kantor
Jika Anda menduduki jabatan yang mengharuskan sering rapat bersama rekan pria, upayakan di kantor saja. Rumah makan memiliki suasana lebih intim ketimbang ruang rapat resmi. Rapat di luar kantor, biasanya akan lebih banyak membicarakan topik di luar pekerjaan.

Bila terpaksa harus rapat di luar, gunakan tempat umum dan tak terlalu intim. Dan tak perlu sampai harus melakukan perjalanan jauh, apalagi semobil berdua dengan si lawan jenis. Kedekatan fisik sepanjang perjalanan dan ketidakmampuan menolak pembicaraan di luar pekerjaan akan meningkatkan peluang keintiman.

Begitu pula bila ingin merayakan keberhasilan proyek. Hindari merayakan di kafe, bar, atau tempat sejenis yang suasananya intim. Perayaan kecil di kantor bisa dilakukan. Tapi, jangan terlena dan ingat prioritas hidup Anda. Tegaskan pula, Anda juga ingin merayakannya bersama pasangan di rumah.

Jangan Suka Berduaan
Jika ada kesempatan rapat dengan rekan pria, hindari melakukannya hanya berdua saja. Menambah seorang rekan lagi akan meminimalkan potensi keintiman. Meski Anda harus meminta rekan lain yang tak berkaitan untuk ikut rapat.

Fokuskan rapat tetap pada urusan pekerjaan. Atau usulkan mengadakan rapat tim, paparkan alasan Anda untuk memikirkan tujuan yang sama dengan banyak orang. Umumnya orang menyukai rapat besar, karena lebih banyak kesempatan berbagi dan tak perlu menonjolkan diri.

Hindari Konsistensi Hubungan
Bagaimana cara menjaga hubungan dengan rekan agar tetap profesional, meski tak perlu jadi kaku? Jika Anda pikir, membatasi waktu bicara dengan lawan jenis sudah cukup, ternyata tak demikian adanya.

Anda mungkin sudah berusaha membatasi waktu berbincang dengan rekan pria. Namun ingat, hubungan emosional selalu dipengaruhi faktor waktu dan konsistensi.

Sudah saatnya mengingat lagi apakah Anda kerap berbicara dengan orang yang sama dengan frekuensi yang sering, sekalipun ngobrol soal kantor? Tak ada salahnya, kok, tertawa bersama dan saling melempar lelucon, tapi jaga agar itu tak hanya pada satu orang secara istimewa, apalagi dengan frekuensi tinggi.

Dipublikasi di rekan kerja | Tinggalkan Komentar

6 Tipe Pengganggu di Kantor

Mungkin Anda pernah mengalami hal berikut ini. Anda sudah menyiapkan rencana kerja, mengatur segalanya, dan pekerjaan sudah hampir siap sesuai dengan batas waktu, tiba-tiba Anda menyadari, teman kerja tidak memberikan data yang diperlukan, dan bahkan dia tidak ada di kantor!

Atau, pada situasi Anda dikejar tenggat, telepon berdering dan tak ada teman yang mau menjawab, sehingga Anda harus menjawab telepon dari para klien. Ketika Anda sudah memusatkan kembali perhatian pada pekerjaan yang sedang Anda selesaikan, tiba-tiba teman kerja lainnya mendekat, mengajak ngobrol tentang anak perempuannya yang ikut kursus musik.

Nah, bagaimana mau menyelesaikan pekerjaan bila selalu diganggu dengan hal-hal tersebut? Kadang, teman kerja yang malas dan bersikap menjengkelkan, membuat Anda naik darah atau menyebabkan pekerjaan Anda menumpuk di akhir minggu. Berikut ini taktik untuk menghadapi mereka.

1. Tukang Menghilang
Orang yang termasuk tipe ini dapat tiba-tiba menghilang pada saat dibutuhkan. Mereka sering “hilang” dan datang terlambat tanpa memberitahukan terlebih dahulu, sementara itu pekerjaan Anda terhambat karena ulahnya sehingga Anda harus bekerja dua kali.

Taktik mengatasinya:
Bicaralah dengannya. Jelaskan padanya permasalahan dan perasaan Anda, atau akibat dari perbuatannya terhadap pekerjaan. Ajak dia untuk mencari jalan keluarnya. Misalnya, tanyakan, apakah dia sadar bahwa akibat perbuatannya pekerjaan harus dikerjakan dua kali sehingga bagian/departemen Anda tampak tidak profesional. Minta pula pendapatnya untuk mengatasi masalah ini.

2. Pemberontak
Tipe pemberontak kerap mengurangi pekerjaannya dengan meminta orang lain untuk mengerjakan tugasnya. Mereka dengan amat mudah menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan dan menolak mengerjakan tugas yang tidak tertulis dalam deskripsi pekerjaannya.

Taktik Mengatasinya:
Pertama, pastikan betul apakah si pemberontak termasuk dalam daftar nama yang harus mengerjakan pekerjaan tersebut. Bila tidak, jelaskan pada atasan mengenai situasi ini dan tanyakan apa yang harus Anda lakukan. Misalnya, “Operator telepon kita, si X, selalu menyambungkan telepon yang tidak jelas untuk siapa ke saluran saya. Apakah saya harus menerima telepon tersebut atau saya katakan kepadanya untuk menyambungkan ke teman yang lain?”

3. Si Penunda Pekerjaan
Tipe ini selalu menunda pekerjaannya sampai saat-saat terakhir. Memperlambat dalam memberikan informasi/data yang Anda butuhkan sesuai batas waktu yang Anda perlukan.

Taktik Mengatasinya:
Majukan tenggat waktu Anda sehingga tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Bila hal ini tidak berhasil, beri catatan pada laporan Anda, bahwa data belum diterima dari X atau dari departemen Y. Dengan cara ini, si penunda pekerjaan akan bereaksi.

4. Tipe Pesaing
Tipe ini selalu ingin menunjukkan, dia lebih dari yang lain. Dia akan selalu berusaha untuk mengerjakan segala sesuatunya melebihi teman kerja lainnya. Entah dengan cara melakukan penjualan paling banyak atau pulang paling malam, dan lainnya.

Taktik Mengatasinya:
Tunjukkan kepadanya, Anda tidak tertarik untuk melakukan pekerjaan ataupun hal lain dengan cara bersaing. Misalnya, “Buat saya, tidak penting apakah kamu mengetik lebih cepat atau tidak karena hal ini membuat saya terganggu. Kamu selalu memaksa saya untuk bersaing. Kenapa, sih, kamu selalu harus merasa nomor satu dalam segala hal?”

5. Tukang Kritik
Baju Anda, suami, mobil, tidak ada sedikit pun yang lepas dari kritikannya.

Taktik Mengatasinya:
Tidak perlu marah terhadap kritikannya. Tenang saja. Mungkin kritikannya ada benarnya. Bila Anda tenang, Anda dapat menerima kritikannya dengan santai tanpa perlu cemas atau merasa perlu membela diri. Misalnya, dia mengejek Anda dengan mengatakan, baju yang Anda pakai tampak longgar. Jawab saja sambil tersenyum, “Ya, mungkin harus dikecilin sedikit,” lalu lupakan ucapan si teman. Anda tidak perlu menanggapinya dengan serius.

6. Penyela
Tukang sela bisa bolak-balik ke meja Anda hanya untuk menceritakan tentang pacar terbarunya. Bunyi telepon Anda maupun batas waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Anda bukan merupakan penghalang baginya. Tetap saja dia bolak-balik sehingga mengganggu konsentrasi Anda.

Taktik Mengatasinya:
Bila teman Anda hanya ingin mengobrol, terutama mengenai masalah pribadi, katakan kepadanya untuk membicarakannya pada jam makan siang atau saat istirahat. Tentukan jamnya dan Anda harus konsisten dengan waktu yang telah Anda tentukan tadi.

Hal terpenting yang perlu diingat dan dijaga dalam hubungan dengan teman sekerja adalah jangan sampai ada pertengkaran. Jauh lebih mudah mengatasi masalah sedini mungkin daripada mempertahankan hubungan yang sudah retak. Hal lain yang juga patut dicamkan para karyawan, atasan Anda selalu ingin unit/departemennya kelihatan baik dan pastikan Anda sanggup mengerjakan semua tugas dengan baik.

Dipublikasi di rekan kerja | Tinggalkan Komentar

Capek Berurusan Dengan Bos Bawel

Ilustrasi : Aries Tanjung

Saya sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta yang lumayan besar selama 2 tahun. Ini pengalaman kerja pertama saya. Jabatan saya staf dan 90 persen pekerjanya perempuan, rata-rata belum atau tidak menikah. Di kantor, saya punya senior yang lebih tua 5 tahun dan sudah 5 tahun bekerja di perusahaan ini (sebut saja X).

Masalahnya, saya kesulitan beradaptasi dengan X. Emosinya sering tidak terkendali dan tak dapat ditebak. Apalagi sejak kami berganti manajer setahun lalu. Ibu Manajer (IM) yang sekarang adalah sahabat X. Saya sendiri tidak dekat dengan IM karena berulang kali saya ajak omong baik-baik tentang masalah pekerjaan, selalu saya yang disalahkan dan kena marah.

Saya tidak tahu apa saja yang dibicarakan X kepada IM, sehingga saya selalu dalam posisi salah. Apalagi IM sering keluar kota/negeri, sehingga urusan pekerjaan sehari-hari ditangani X. Saya sudah berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa, bahkan pekerjaan kantor sering saya bawa pulang ke rumah dengan harapan IM dan X bisa menerima dengan baik kehadiran saya. Tapi yang saya dapat hanya sindiran dan dampratan saja.

Bahkan X, tidak segan-segan memarahi saya di depan anak buah. Saya benar-benar tersinggung, malu, dan minder. Saya pernah berpikir untuk membalas kelakuan X, tapi urung karena rasanya tidak pantas, mengingat kami di level staf, bukan karyawan biasa. Apalagi saya dibesarkan dalam keluarga dengan budaya keraton Jawa, sementara IM dan X ini dari etnis lain. Memang, hampir semua jabatan staf dijabat oleh etnis tadi.

Saya bukannya rasis Bu, tapi perilaku mereka sangat-sangat kasar, tidak ada sopan santunnya. Saya merasa suasana kerja “panas” setiap hari, bahasa kasar terdengar setiap saat. Saya sebenarnya ingin sekali pindah kerja, tapi tidak bisa. Orang tua bilang, di tempat baru, belum tentu saya dapat suasana kerja yang lebih baik, bisa sama atau bahkan lebih buruk. Belum lagi susahnya mencari kerja di zaman sekarang.

Apalagi biaya pindahan dari Surabaya ke Bandung sangat mahal. Saya malu kalau orang tua harus keluar biaya lagi untuk saya. Saya pingin mandiri, Bu. Kata orang tua saya harus mengalah, lebih sabar, dan berdoa menghadapi kelakuan IM dan X. Belum lagi anak buah saya berencana mogok kerja kalau saya jadi pindah kerja. Anak buah sering tidak tahan dengan perlakuan X, dan saya jadi tempat mereka curhat. Tapi saya sendiri, kan, tidak bisa curhat sembarangan. Saya berusaha tidak terpancing emosi, karena khawatir dicap provokator.

Jadi, di kantor, saya tidak punya orang yang bisa dipercaya. Saya tidak percaya pada semua orang. Akibatnya, semua saya pendam sendiri. Saya jadi sering sakit-sakitan, mungkin stres ya, Bu, padahal selama sekolah dan kuliah saya ini atlet beladiri dan jarang sakit.

Saya pernah mengajak X bicara baik-baik, tapi endingnya dia marah-marah. Saya jadi kapok bicara dengannya. Saya dianggap lambat bekerja dan terlalu baik pada semua orang, terutama anak buah, sehingga dia merasa dia bekerja sendirian. Padahal, untuk urusan rutin sehari-hari, sayalah yang mengerjakan. Saya sangat lelah dengan situasi seperti ini. Hidup rasanya muram, apa-apa yang ada di kantor malah membuat saya tertekan dan serba salah.
Saya tak punya teman atau sahabat di kota ini, apalagi pacar. Saya mengontrak rumah sendirian. Orang tua saya dinas di Solo. Saya sangat-sangat lelah dan butuh nasihat Ibu. Terima kasih.

R di X

Jeng R yang terhormat,
Sepuluh tahun lalu, adik perempuan saya memberi saya oleh-oleh sepatu hitam yang sangat enak dipakai dengan kulit dari kualitas terbaik, ketika ia keluar negeri. Sepatu ini adalah ‘andalan’ bila saya harus mengajar dan berdiri untuk waktu lama, karena tidak membuat pinggang saya sakit. Yang ‘kalah’ hanya sol di tumit yang secara berkala harus saya ganti. Apa sih, hubungan sepatu dengan bos galak, begitu mungkin tanya Anda. Putri Solo, kan, sabar, jadi sabar dulu ya, karena saya bermaksud menceritakan sesuatu.

Baru kemarin, tukang sol sepatu langganan lewat dan seperti biasa ia menyapa, “Parantos rusak, Neng?” tetapi kali ini ada yang tidak biasa, karena ia diiringi seorang anak lelaki 10 tahunan bercelana panjang, kemeja tangan panjang, topi, dan sepatu kets. Ternyata, ia adalah bungsu si Mamang, dan waktu saya tanya apa yang sedang dia lakukan, dengan ceria ia menjawab, “Liburan.”

Selidik punya selidik, ternyata anak yang tinggal di desa ini menyusul ayahnya ke Jakarta, ikut berjalan menyusuri rute ayahnya, dalam rangka liburan sekolah. Wajahnya happy dan ekspresi ingin tahunya tentang keadaan sekeliling membuat saya terharu, alangkah mudahnya membuat diri senang ketika hidup ini kita lihat juga dengan tidak rumit, ya?

Saya jadi terbayang seorang teman yang jauh lebih muda usianya dari saya dan baru menelepon paginya, menceritakan anaknya yang ngambek karena kali ini ‘Cuma’ akan diajak ke Malang menengok kakek yang belum lama ditinggal nenek selamanya. Bukan liburan namanya, begitu kata si anak. Karena, buat dia, yang disebut libur adalah Bangkok, Singapura, atau Australia, seperti saat-saat sebelumnya.

Jadi, Jeng R, libur yang pada hakikatnya adalah berhenti sejenak dari kegiatan rutin di sekolah, ternyata dipandang, dipahami, dan kemudian diyakini sebagai aktivitas yang amat berbeda oleh kedua anak tadi, bukan? Yang satu, beriring-iring dalam panas dengan ayahnya menjajakan jasa sol sepatu, dengan yakin mengatakan ini adalah liburannya. Sementara, anak teman saya sudah akan naik pesawat, lalu menempuh perjalanan darat dari Surabaya ke Malang, akan tinggal di rumah kakek yang halamannya luas dan di belakangnya ada sungai berair jernih, bukan libur katanya.

Everything start in your mind! Segala sesuatu yang kita alami dan kemudian kita cermati sebagai bagian dari keseharian, pemahamannya dimulai dari apa yang ada di benak kita, BUKAN oleh apa yang terjadi di luar diri kita. Nah, ini yang saya ingin sampaikan pada Anda, Jeng R. Maka, tak usah gundah gulana atau malah stres ketika kita berbeda penafsiran tentang sesuatu dengan orang lain. Kebanyakan, kita menjadi stres karena menganggap diri paling benar dan merasa aneh, kenapa orang lain, kok, tak berpikir seperti kita. Tetapi, manusia memang makhluk unik, sehingga kalau yang satu besar di keraton dan yang satu lagi mungkin di daerah pecinan yang padat, mestinya lumrah, dong, kalau gaya interaksinya juga berbeda. Bahasa yang terdengar kasar di telinga Anda bisa saja terasakan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja untuk para atasan tadi.

Rumitnya, bingkai situasi ini adalah pekerjaan dan Anda bawahan pula. Sehingga, ketika Anda merasa sudah bekerja keras dan tidak mendapatkan penghargaan (reward) seperti yang Anda harapkan, ditambah lagi perbedaan gaya dalam mengekspresikan diri, motivasi kerja Anda lalu melorot tajam dan bekerja lalu terasa jadi stressor, alias sumber stres.

Secara teoritis, paling mudah menyarankan Anda untuk berhenti saja, bukan? Wong sudah enggak cocok, ngapain juga, sih, diterus-teruskan. Tapi, kalau saya katakan ini pada Anda, bukan pengarahan namanya, melainkan penyesatan. Karena, kalau Anda keluar, pasti bukan hal yang mudah untuk menemukan penggantinya. Dan, lebih penting lagi, kalau Anda tak belajar menyiasati atasan yang sulit, kemana pun Anda bekerja pasti akan Anda temui orang sejenis ini, walau mungkin dalam kemasan yang berbeda.

Dalam pekerjaan, biasanya ada paling sedikit 3 jenis bos yang kita kategorikan sebagai atasan sulit. Pertama, yang mulutnya seperti silet, tajam, dan tak enak didengar. Yang kedua yang narsis. Ini berasal dari mitologi kuno Yunani yang berkisah tentang sosok yang hanya mencintai dirinya sendiri. Bos sejenis ini tak mau berbagi ‘panggung’ dengan anak buahnya. Ia cenderung mau menyelesaikan semua masalah sendirian, senang sekali bila mendengar puja-puji pada dirinya, walau mungkin itu cuma kata-kata palsu si penjilat. Akibatnya, ia selalu punya anak emas yang ia percaya 100 persen, dan karenanya staf yang lain lalu jadi anak tiri yang merasa disisihkan dan tidak diperhatikan. Bos seperti ini amat mahir merontokkan rasa percaya diri anak buahnya.

Jenis ketiga adalah tipe PARNO, kata anak muda masa kini, yaitu kependekan dari Paranoid. Sebenarnya ini istilah untuk menerangkan kelainan jiwa yang ditandai oleh waham ketidakpercayaan dan curiga berlebih pada orang lain. Bos Parno ini tak pernah bisa percaya pada anak buah, menjaga jarak, dingin, kaku, dan menganggap orang lain selalu bermaksud buruk padanya. Ia tak suka berbagi informasi yang memudahkan pekerjaan orang lain, dan masukan maupun kritik anak buah dianggapnya sebagai ancaman bagi kelangsungan kepemimpinannya.

Atasan Anda tampaknya lebih tepat masuk ke dalam golongan silet, ya? Mereka biasanya sosok yang tak merasa puas dengan dirinya sendiri dan punya kebutuhan besar untuk membuat orang lain agar memiliki perasaan serupa dengan dirinya.

Beda dengan bos Narsis yang biasanya punya PD berlebih, sehingga ‘over PD’ maupun Bos Parno yang biasanya memang punya kompetensi yang bagus di bidangnya, biasanya Bos Silet ini naik jabatan lebih karena faktor-faktor di luar kemampuannya. Sudah senior alias lama bekerja misalnya, punya hubungan baik dengan atasan, atau bawahan yang rajin ‘menjilati’ pantat atasannya sampai mengkilap. Kalau ada tanda-tanda anak buahnya menguasai tugas dengan baik, ini justru ancaman untuknya. Ia akan lebih senang bila bisa sering-sering memaki anak buah dengan “Goblok banget, sih, kamu, enggak ada inisiatif” atau “Mbok kamu pergi ke psikiater, kayaknya kamu gila, deh, kalau orang waras mah enggak kaya kamu gitu.”

Sumber kekecewaan anak buah biasanya adalah sebuah kenyataan obyektif bahwa sang bos sebenarnya jauh lebih tidak mampu dibanding orang yang ia goblok-gobloki tadi! Tak heran bila bos silet ini hampir selalu punya ‘gantungan” alias deking di atas dirinya, tempat ia lari dan mengadukan anak buahnya yang bikin pusing kepala (karena lebih pintar dari dirinya). Orang Jawa memakai istilah “ngatok” untuk hal ini.

Strategi utama menghadapi bos seperti ini adalah jangan pernah berharap bahwa ia akan berubah! Mau kerja keras kek, berbaik-baik kek, ia akan tetap saja mengeker kekurangan Anda, karena pada dasarnya ia sedang ‘melemparkan” perasaan-perasaan mindernya pada Anda. Nah, supaya hubungan menjadi lebih nyaman, Anda yang harus berubah. Apanya? Harapan Anda tadi, bahwa ia akan berubah. Berhenti, deh, berharap ia berubah, karena proses ia menjadi minder dan lalu melakukan kompensasi seperti ini biasanya berakar pada masa lalu, dimana ia dibesarkan dalam keluarga dimana biasanya orang tuanya merupakan sosok yang suka mengkritik dan mengecam anaknya sehingga anak tumbuh dalam perasaan tidak berdaya.

Bila Anda bisa mengubah pikiran di benak Anda bahwa cukup tugas-tugas diselesaikan seperti apa yang ia kehendaki, maka fokuslah pada tugas utama Anda dan selesaikan seperti yang ia inginkan. Bila ia berinteraksi dengan Anda, sedapat mungkin jadilah seperti kaset rusak, yang lalu terulang-ulang pemutarannya. Perbanyak katakan “ya Bu, ya Bu.” Bila salahnya sudah keterlaluan, gunakan kata-kata ‘bersayap’ sejenis ini, “Bu, rasanya Ibu pernah memberi petunjuk pada saya bahwa situasi yang seperti ini kalau dilakukan dengan cara Ibu yaitu bla bla bla” akan lebih efektif penyelesaiannya ketimbang mengatakan, “Secara prosedural, yang Ibu putuskan ini salah. Kita akan kehilangan banyak biaya, lho, Bu.”

Padahal, si Ibu mungkin tak pernah mengatakan ide cemerlang tadi (wong dia memang gwuobl), tetapi karena Anda menyebut sesuatu yang bahkan tak terpikir olehnya dan itu benar, maka ia lebih mudah mengiyakan. Bukankah persetujuannya lebih penting dibandingkan menggarisbawahi ide siapa ini sebenarnya?

Nah, ini menjadi hal berikut yang bisa Anda pakai. Buanglah keinginan untuk menjadi pusat perhatian, atau kalau di sinetron barangkali tak perlulah jadi peran utama. Peran pembantu saja, yang penting bantuan Anda memang efektif untuk memecahkan masalah dan menuntaskan kerja.

Dengan melakukan hal-hal di atas, sebenarnya Anda bukan sedang membuat bos silet tadi senang, lo. Anda justru sedang membentengi diri agar ketidaknyamanan tidak hinggap lagi ke diri Anda. Ingat, segala sesuatu dimulai dari apa yang ada di benak Anda. Maka, mulailah dengan mengubah pandangan Anda tentang pekerjaan dan lingkungan kerja Anda. Kesediaan membuka diri, dalam arti membiarkan orang memperoleh lebih banyak informasi tentang diri Anda, akan menumbuhkan kepercayaan orang lain, dan sebaliknya.

Inilah celah yang memberi Anda peluang untuk punya teman sejati, membuka diri tak usah harus berarti bercerita tentang konflik Anda dengan bos, tetapi banyak hal lain tentang diri yang bisa dibagi pada orang lain, bukan? Bila Anda tidak terasa sebagai sosok asing untuk orang lain, pastilah hubungan akan makin menyenangkan, sehingga Anda tak terlalu merasa sebagai putri Solo yang kesepian di antara mojang priangan, bukan? Salam sayang.

Dipublikasi di boss | Tinggalkan Komentar

8 Aturan Dengan Rekan Kerja

Membangun suasana kerja yang nyaman tentu harus dilakukan semua orang yang berada di lingkungan tersebut. Termasuk Anda, tentunya. Jika hubungan dengan sesama rekan kerja terbina dengan baik, bukan saja suasana nyaman yang akan didapat, tapi juga tim kerja yang solid. Berikut sejumlah aturan dasar yang sebaiknya dicermati.

1. Panggil namanya
Bila berbicara dengan rekan sekerja dan Anda tidak memanggilnya dengan sebutan “Anda” melainkan dengan menyebutkan namanya, maka pesan yang Anda sampaikan jelas. Hal ini juga memperlihatkan bahwa Anda peduli dengan lawan bicara dan menganggapnya penting. Bumbui kalimat dengan menyebutkan nama dan mulailah pertanyaan dengan, misalnya, “Selamat pagi, Yuni, bagaimana kabarnya pagi ini?”

2. Akui kesalahan
Tidak perlu malu. Mau mengakui kesalahan justru merupakan tindakan yang patut dihormati karena sangat jarang orang yang mau melakukan hal ini. Singkirkan ego Anda dan akui bahwa diri Anda tidak sempurna. Dalam mengakui kesalahan yang dilakukan, tidak perlu bersikap berlebihan. Cukup dengan mengatakan, “Saya menyadari, saya telah melakukan kesalahan.”

3. Hormati kemampuan
Jangan merasa paling mampu mengerjakan segala sesuatu. Akui kemampuan orang lain. Beri kepercayaan pada seseorang untuk melakukan pekerjaannya sebaik mungkin. Dengan memberi kepercayaan pada seseorang, berarti Anda memberikan dukungan kepadanya untuk betul-betul menghasilkan serta memberi yang terbaik. Selain itu, sebaiknya bersikap sabar terhadap rekan sekerja yang masih pemula dalam bidangnya.

4. Tunjukkan minat tulus
Perhatikan minat dan kegemaran dari rekan-rekan sekerja di sekitar. Walaupun minat dan kegemaran mereka berbeda dengan yang Anda sukai, tunjukkan perhatian Anda dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di seputar topik tersebut. Segi positifnya adalah Anda belajar mengenai sesuatu yang baru. Dan jangan lupa, setiap orang senang diperhatikan dan diingat. Yang penting, Anda tahu kapan saatnya berbicara dan kapan saatnya untuk diam.

5. Beri pujian
Bila bawahan telah berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik, beri pujian dan tunjukkan bahwa Anda betul-betul memperhatikannya. Misalnya dengan mengatakan, “Yulita, penjelasan yang dikemukakan di rapat tadi sangat baik dan membuat semua orang terkesan.” Hindari kritikan dan beri kritik bila memang diperlukan dan kritikan tersebut harus lebih merupakan kritik yang membangun.

6. Ucapan terima kasih
Bila memerlukan tenaga orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan Anda, pastikan Anda memperlihatkan rasa terima kasih pada orang tersebut dan tawarkan kepadanya bantuan Anda bila dia memerlukan.

7. Rendah hati
Anda tidak perlu menggembar-gemborkan hasil pekerjaan. Tidak seorang pun menyukai sikap ini. Anda harus sabar agar orang lain memperhatikan prestasi Anda. Biarkan orang lain melihat dengan sendiri hasil pekerjaan dan ketekunan Anda. Sikap ini lebih dihargai.

8. Bantu atasi kesalahan
Setiap orang dapat melakukan kesalahan dan bila kesalahan ini terjadi di depan orang banyak, tentu saja perasaan malu yang timbul. Oleh karena itu, bila ada rekan sekerja yang mengalami hal ini, lakukanlah hal sama. Jangan menertawakan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain, sebaliknya katakan, “Setiap orang pernah mengalaminya,” dan yakinkan kepada orang yang bersangkutan bahwa hal ini tidak berarti kiamat. Bila takut salah dengan ucapan Anda, lebih baik diam.

Dipublikasi di rekan kerja | Tinggalkan Komentar

Pacaran dengan Rekan Sekerja Boleh Asal…

Namanya juga panah asmara, ia bisa membidik siapa saja dan di mana saja. Termasuk membidik Anda dan rekan sekerja. Dilema pun timbul. Apa yang harus dilakukan?

Mudah-mudahan informasi ini dapat membantu Anda membuat beberapa keputusan bila Anda mulai berpikir untuk berkencan dengan sesama rekan sekerja. Dan sebelum Anda melakukannya, tak ada salahnya mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini terlebih dahulu pada diri sendiri:

* PERATURAN PERUSAHAAN
Bagaimana peraturan perusahaan mengenai kencan di tempat kerja? Tak sedikit perusahaan yang memiliki peraturan yang tak mengizinkan kencan di tempat kerja karena akan mengganggu konsentrasi kerja dan menyebabkan menurunnya produksi kerja. Di sejumlah perusahaan, berkencan dengan sesama rekan kerja dapat menyebabkan pemutusan hubungan kerja. Apakah teman kencan Anda merupakan seseorang yang cukup berisiko?

* JIKA MEMUTUSKAN UNTUK TERUS
Bila memutuskan untuk menutupi hubungan asmaran yang terjadi, dapatkah teman kencan dipercaya untuk melakukan hal yang sama? Gosip di tempat kerja akan menyebar ke mana-mana bila Anda berkencan secara diam-diam. namun jika dilakukan secara terbuka, tak pelak lagi Anda akan menjadi bahan pembicaraan.

Ada alasan lain mengapa kencan di tempat kerja tidak diperbolehkan. Selain menurunkan produktifitas dan gosip di tempat kerja, banyak pasangan yang berkencan mengambil cuti liburan dan cuti sakit pada waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyulitkan pihak pemberi kerja bila keduanya bekerja di departemen/bagian yang sama atau termasuk pada tim kerja yang sama.

* JIKA BERLANJUT SERIUS
Apa yang terjadi bila hubungan yang tadinya biasa berubah menjadi hubungan percintaan serius? Anda harus memikirkan apakah dapat bekerja dengan seseorang yang Anda lihat dan temui setiap saat. Hal ini dapat berdampak pada hubungan pekerjaan. Bila salah satu dari Anda berdua berada pada posisi yang cukup mempunyai wewenang, Anda mungkin bahkan akan menjadi pihak yang disalahkan. Bila Anda berdua bertengkar, hal ini dapat berdampak pada hubungan pekerjaan.

* PUTUS HUBUNGAN
Apa yang terjadi bila hubungan berakhir? Hal terakhir yang akan terjadi adalah timbulnya kebencian di tempat kerja. Bila hubungan berakhir secara tidak baik-baik, hal ini dapat menimbulkan gosip yang negatif dan menjadi bahan pembicaraan yang tidak menyenangkan. Di beberapa perusahaan, hal ini juga dapat menimbulkan sabotase.

* URUSAN KERJA & PRIBADI
Dapatkah memisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi? Apakah ingin masalah pekerjaan tetap menjadi bahan pembicaraan bila Anda berdua sedang tidak berkerja? Bila hubungan hanya berkisar masalah pekerjaan, Anda harus mempertimbangkannya kembali dengan lebih matang.

* TANYA PERASAANNYA
Apakah rekan sekerja yang Anda sukai juga menyukai Anda atau dia menganggap sikap Anda sebagai penyalahgunaan seksual? Hal ini sering terjadi dan harus menjadi merupakan pertimbangan yang utama.

TIPS :
Bila telah mengambil suatu keputusan dan tidak ada peraturan yang menyebutkan tentang kencan di perusahaan atau Anda berkencan secara diam-diam, tips berikut ini mungkin akan bermanfaat.

1. Bersikap hati-hati.
Walaupun semua orang tahu mengenai hubungan Anda, tempat kerja bukanlah tempat untuk memamerkan hubungan. Bermesraan di tempat umum bukan hanya tidak pantas tetapi juga kampungan.

2. Jangan ceritakan masalah pribadi
Semua orang senang bergosip, bahkan orang yang Anda percaya sekalipun. Bila Anda akan menceritakan masalah pribadi dengan seseorang, minta mereka menjadi orang yang dapat menetralkan gosip mengenai Anda.

3. Jangan berdampak pada pekerjaan
Jangan habiskan waktu Anda berdua dengan saling berkirim e-mail atau mengobrol di telepon. Jangan sampai pertengkaran atau perasaan marah di antara Anda berdua mengganggu pekerjaan Anda.

4. Jangan selalu terlihat bersama
Kecuali bila Anda tidak berada di dalam satu tim kerja atau satu departemen, jangan ambil cuti liburan atau cuti sakit pada waktu yang bersamaan atau paling tidak usahakan untuk menguranginya. Jangan datang terlambat ke kantor atau pulang lebih awal secara bersamaan.

5. Perlakukan sama
Bila salah satu dari Anda merupakan atasan, jangan memberikan promosi kepada pasangan secara menyolok sementara orang yang lebih berhak mendapatkan promosi tidak memperolehnya. Jangan perlihatkan sikap pilih kasih.

Bila kita membicarakan mengenai kencan di tempat kerja, yang paling penting di atas segalanya adalah untuk tetap bersikap professional. Pertama, pertimbangkan akibatnya. Bila perkencanan menjadi hubungan yang lebih serius, salah satu dari Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk pindah kerja.

Jangan membahas atau memamerkan hubungan Anda dengan sesama rekan kerja yang lain dan jangan sampai hubungan Anda berdua mengganggu pekerjaan. Bila Anda melakukannya dengan baik dan benar, tidak ada alasan bagi orang lain untuk mempergunjingkannya.

Dipublikasi di asmara, rekan kerja | Tinggalkan Komentar

Menghadapi Nepotisme Di Kantor

Sulit bersaing dengan anak bos atau kerabat atasan, untuk menduduki jabatan penting tertentu? Ya, memang sulit berhadapan dengan nepotisme di tempat kerja. Jadi, ada baiknya Anda simak saran berikut.

Tentu mengesalkan kalau posisi yang menjadi incaran Anda ternyata sudah akan diisi oleh Si X, yang merupakan anak dari Presiden Direktur perusahaan tempat Anda bekerja. Padahal, Anda sudah bekerja keras untuk itu dan menurut sebagian besar rekan kerja, Anda layak meraihnya. Sudah pasti, situasi di kantor akan bertambah buruk. Apalagi, jika Si X kemudian ternyata merupakan atasan langsung Anda.

Sudah barang tentu Anda kehilangan kesempatan untuk naik pangkat, dan Andapun akan merasa terbebani karena harus melayani dan menerima perintah-perintah Si X. Lalu, apa yang sebaiknya dan dapat Anda lakukan agar terhindar dari masalah seperti ini? Simaklah panduan berikut:

1. BERI KESEMPATAN
Tidak semua anak big boss tidak kompeten, lho! Terkadang, pewaris perusahaan juga sangat kompeten, dan seringkali mereka justru membuat pekerjaan menjadi lebih lancar, karena tidak perlu mengikuti birokrasi yang biasanya memang harus dihadapi.
Sebelum Anda mengambil kesimpulan mengenai kemampuannya, beri kesempatan kepadanya, paling tidak beberapa bulan, untuk melihat apa yang dapat dicapainya, dan bagaimana rekan sekerja yang lain menghadapi peraturan baru yang dikeluarkannya. Bersyukurlan karena Anda punya kesempatan untuk langsung berhadapan dengan nepotisme.

2. MEMANDANG DARI PERSPEKTIF SI X
Terkadang, mereka yang mendapatkan posisi karena nepotisme juga peka dengan masalah ini, sama seperti anda. Tidak semuanya akan merasa nyaman, kok. Oleh karena itu, jika Anda berhadapan dengan nepotisme, Anda harus dapat memaafkan. Beri mereka kesempatan untuk mengajukan perspektifnya sebelum Anda mengasumsikan, mereka tidak kompeten dan arogan.

3. BUAT MEREKA BERHASIL
Tidak ada yang bisa membuat pemimpin perusahaan sangat bahagia selain mendengar, orang yang dipekerjakan pada posisi tertentu dapat melakukan tugasnya dengan baik. Lakukan apapun yang bisa Anda lakukan agar atasan tahu, Anda melakukan yang terbaik untuk membantu keberhasilannya, dan ini akan memberi nilai tersendiri bagi diri Anda.

4. LAKUKAN PENDEKATAN
Sama seperti halnya pegawai baru lainnya, atasan baru Anda pun akan memerlukan panduan mengenai perusahaan, terutama jika mereka di bawah kualifikasi untuk posisi penting tertentu yang Anda incar. Hal ini merupakan kesempatan baik bagi Anda untuk memperlihatkan diri Anda sebagai pemain tim yang baik, dan mampu menjalin persahabatan yang kuat di dalam perusahaan.
Selain itu, merupakan kesempatan bagi Anda untuk melakukan penilaian terhadap kelebihan dan kelemahan Si X. Cari tahu bagaimana ia mendapatkan posisi itu, dan apa pendapatnya mengenai posisi barunya, serta apa saja yang dikhawatirkannya. Dengan demikian, Anda akan memahami tujuannya, dan lebih spesifik lagi, bagaimana dampaknya terhadap diri Anda.

5. INGAT, SIAPA YANG MEMPEKERJAKAN SI X
Pimpinan perusahaan tidak akan senang jika mendengar komentar Anda yang menganggapnya mempekerjakan Si X merupakan keputusan yang salah. Hal ini tidak akan memberikan pengaruh apapun pada Si X, melainkan justru pada Anda. Oleh karena itu, Anda perlu berhati-hati dengan komentar yang Anda keluarkan.

6. HANYA BERURUSAN BILA TERPAKSA
Jika sudah pasti dan jelas Anda tidak dapat bekerja sama dengan Si X, jangan terlalu mempermasalahkannya, kecuali jika keadaannya sungguh-sungguh kritis. Jadi, jangan mempersulit situasi kantor yang sudah rumit.
Cari saja masalah yang lebih besar, yang pantas Anda ajukan seperti sasaran penjualan mendatang, atau masalah deadline yang terlewatkan. Segala sesuatu yang tidak kritis harus disimpan agar Anda dapat memusatkan perhatian pada jangkauan yang lebih besar.

7. BERSABAR
Anda barangkali sering mengasumsikan keadaan saat ini akan berlangsung selamanya, tetapi ternyata tidak selalu demikian, lho! Menunggu memang menyakitkan, tetapi tidak lebih menyakitkan daripada harus kehilangan semua yang telah Anda investasikan pada perusahaan.
Mungkin pada akhirnya Anda akan mendapatkan posisi yang didambakan, jika setelah beberapa bulan atau di tahun pertama semenjak keberadaan orang baru tadi, perusahaan lalu melakukan perubahan struktur organisasi. Kemudian, bisa saja orang baru tadi disingkirkan dan akhirnya perusahaan menunjuk Anda sebagai penggantinya.

Dipublikasi di boss, rekan kerja | Tinggalkan Komentar

Ketika Cinta Dengan Teman Sekantor Berakhir

Anda pernah menjalin asmara dengan teman sekerja? Tentu ada sisi positif dan negatif yang Anda dapat. Sisi positif yang Anda hadapi adalah apabila hubungan tersebut putus.

Mau tak mau, suka tak suka, Anda harus bertemu dengan si mantan setiap hari. Bagaimana seharusnya Anda menyikapinya? Berikut aturan main jika terpaksa purus hubungan dengan teman sekerja.

BERSIKAP DEWASA
Tunjukkan kedewasaan Anda dengan menyingkirkan masalah pribadi. Apalagi jika Anda berdua terlibat dalam satu proyek yang sama.

Sebaliknya, bila Anda yang memutuskan hubungan tersebut, Anda perlu peka terhadap perasaan sang mantan. Jangan menghindar setiap kali bertemu. Sebaiknya bersikap biasa saja. Berikan senyum dan sapa sekadarnya. Hindari kata-kata, “Apa kabar” karena hal ini hanya akan menambah luka di hatinya.

INFORMASI
Bila teman sekerja tahu mengenai hubungan cinta Anda, adalah penting untuk memberi info mengenai status terakhir hubungan Anda. Bila hubungan cinta di kantor menjadi tidak nyaman, tidak etis untuk melecehkan reputasi si dia dan hal ini hanya akan memberi kesan yang tidak baik bagi diri Anda.

Bila atasan Anda tidak menanyakan masalah pribadi, sebaiknya Anda tetap tutup mulut walaupun hal ini berarti Anda terpaksa tetap duduk berdekatan dengan si mantan.

HINDARI GOSIP
Bila Anda tidak menanggapi dan bersikap cuek terhadap gossip-gosip yang beredar, pada akhirnya gosip tersebut akan mereda dan orang-orang tidak membicarakannya lagi.

TAHU KAPAN HARUS CUTI
Bila Anda betul-betul merasa terganggu dan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan, sebaiknya ambil cuti untuk menenangkan diri anda.

BERHENTI JIKA PERLU
Bila seseorang mencorengkan nama Anda atau bila Anda merasa jika tetap berada di kantor tersebut akan membahayakan, sebaiknya cari pekerjaan di tempat lain.

Anda perlu ingat, walaupun sedang sakit hati dan berusaha mengatasinya, hubungan kerja yang baik bukanlah tidak mungkin untuk dijalin. Kejadian semacam ini hanya sesaat dan biasanya semuanya akan menjadi lebih baik bila Anda tahu bagaimana cara mengatasinya.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar

Menyikapi Bos Brengsek

Berikut ini kita bisa mengenali tipe-tipe bos menyebalkan dan jalan keluar menghadapinya.


Atasan yang menyebalkan selalu menunjukkan ingin mengadu kuat walaupun semua orang tahu, sebenarnya dia lemah. Dia tidak akan membela Anda pada saat Anda menghadapi masalah besar. Akibatnya, Anda bekerja di bawah standar dan dia tidak peduli selama itu masih sesuai dengan dana. Dia gampang dipengaruhi oleh teman sejawat Anda dan bahkan menyenangi persaingan yang tidak sehat. Dia adalah contoh klasik dari bos yang lemah dan sangat tidak baik.
Beberapa atasan memang menyebalkan. Bisa saja seorang atasan merupakan neraka bagi seorang pegawai tapi bagi pegawai yang lain dia merupakan surga. Bila Anda karyawan yang disiplin, Anda pun akan merana, putus asa jika punya atasan yang suka membolos. Dia merupakan atasan yang tertutup sedangkan Anda bawahan yang terbuka. Anda suka pengarahan sementara dia beranggapan Anda sudah cukup menguasai pekerjaan Anda. Anda berharap dapat pulang jam 18.00 sementara dia tipe pekerja keras.
Nah, sebelum menganggap bos Anda benar-benar “brengsek”, tanyakan pada diri sendiri, “Apakah dia tidak bermasalah dengan pegawai yang lain? Apakah dia bersikap demikian dengan semua orang atau hanya pada Anda?” Kunci untuk dapat berhubungan baik dengan atasan adalah dengan berusaha mengerti motivasinya yang bisa jadi berbeda dengan yang Anda pikirkan.
Berikut tipe umum yang dimiliki atasan yang tidak baik dan strategi untuk menghadapi mereka.

Atasan Lemah
Dia tidak akan membela Anda, tak mau mengambil risiko, sikapnya tidak tegas dan janjinya tak bisa dipegang. Soal penyebabnya, bisa berbeda-beda. Biasanya dia hanya ingin disenangi setiap orang dan tidak bisa menghadapi konflik. Bisa jadi pula karena dia terlalu sibuk untuk mengerti permasalahan atau karena sikapnya memang tidak pedulian. Seringkali atasan yang demikian malas menjadi atasan dan lebih senang menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya. Hal ini biasanya disebabkan oleh pelatihan yang salah atau ia punya hambatan untuk memimpin.
Jika kebetulan memiliki bos jenis ini, simak penyebabnya. Kalau bos tipe yang ingin disukai setiap orang, hindari komunikasi yang bertentangan dengannya atau jangan libatkan masalah emosional. Selama masih mampu, atasi masalah Anda sendiri. Kalau masalahnya dia tidak dapat menyelesaikan problem sesuai dengan kepemimpinannya, bicaralah dengan bos yang lebih tinggi kedudukannya.
Bila atasan bersikap tidak pedulian atau malas, bekerjalah di sekitar dia. Ambil inisiatif untuk membuat parameter kerja. Bikin sendiri umpan balik yang Anda butuhkan. Undang atasan melalui e-mail untuk rapat. Cantumkan jadwalnya. Diskusikan dengan dia hanya masalah yang genting saja. Bila bos punya hambatan soal keahlian memimpin, katakan apa yang Anda perlukan dari dia untuk tugas Anda, lalu selamatkan diri Anda dengan mengirim tugas yang telah diselesaikan melalui e-mail.Atasan “Licik”
Dia tipe atasan yang sadar akan apa yang harus dilakukan agar selalu terlihat baik. Ia tak akan segan mendepak Anda hanya karena terganggu rencana kerjanya. Dia licik dan pilih kasih, tidak akan berpikir dua kali untuk memperalat Anda demi mencapai sukses kariernya. Dukung dia dengan memberinya strategi agar dia tampil baik. Pusatkan perhatian pada pekerjaan yang bermutu. Siap-siap untuk menjadi pusat perhatian walaupun itu akan menyiksa Anda. Jangan percaya bahwa dia tertarik pada minat Anda. Tegaskan kepada dia pekerjaan yang Anda mau dengan menampilkan “profil” dan kepentingannya bagi pimpinan perusahaan

Atasan Kaku
Hal ini bisa disebabkan karena IQ- nya yang rendah atau memang sifat aslinya demikian. Dia tidak mengerti konteks, nuansa, atau pendapat kalangan atas. Bila masalahnya adalah intelektual yang rendah, perlakukan dia seperti anak kecil. Tetapi bila masalahnya terletak pada cara berpikir, asah komunikasi Anda sesuai kebutuhannya. Bila dia tipe atasan yang melihat sesuatu berdasar fakta, jangan buang waktu Anda dengan berbasa-basi. Jelaskan secara lugas dan gunakan komunikasi seperlunya.

Atasan Obsesif Pada Hal Kecil
Dia percaya pada Anda seperti Anda percaya pada anak berumur 5 tahun yang berada di belakang kemudi mobil. Tidak perduli serinci apa yang Anda berikan padanya atau berapa kali Anda membuat, mengulang, dan membuat lagi pekerjaan Anda, tetap saja salah di matanya. Alhasil, Anda jadi sama sekali tidak termotivasi dan tidak punya semangat bersaing.
Mengapa dia begitu tidak percaya? Apakah karena dia takut tidak dapat menyenangkan atasannya atau memang karena dia sifatnya yang aneh? Bila masalahnya terletak pada rasa tidak aman pada dirinya, antisipasikan masalah yang akan membuat dia marah dengan meyakinkan dia bahwa semuanya aman. Misalnya, katakan, “Pada waktu mengerjakan ini, saya sudah bicara dengan Pak X dan dia setuju.” Jangan lupa tulis di atas kertas agar dia lebih yakin dan tak menganggap perkataan Anda sekadar omog kosong.

Atasan “Tidak Terlihat”
Tidak ada yang memberi arahan pada Anda. Bahkan bos tak tahu apa yang Anda kerjakan. Tidak ada yang memperhatikan Anda apalagi memberi umpan balik. Atasan tipe ini memiliki banyak kesamaan dengan atasan yang lemah. Dia tidak kelihatan karena terlalu sibuk atau malas. Yang jelas, dia bukan jenis bos yang terlatih.
Bila dia tidak punya banyak waktu, siapkan pekerjaan lebih dahulu sebelum rapat agar rapat tersebut dapat berlangsung secara efisien. Buat strategi pada masalah di mana Anda memerlukan dukungannya. Arahkan diri Anda, beri umpan balik terhadap pekerjaan Anda, dan lakukan evaluasi yang efektif. Ucapkan terima kasih pada diri sendiri untuk pekerjaan yang telah Anda selesaikan dengan baik. Buat mekanisme kerja untuk mendapatkan pengarahan, baik dalam rapat mingguan atau rapat bulanan dengan waktu yang telah ditetapkan bersama. Pegang janjinya.

Atasan “Royal” Beri Tugas
Dia tidak mempunya kehidupan dan menganggap Anda demikian pula. Anda tenggelam dalam pekerjaan tapi dia tetap memberi setumpuk kerjaan lagi. Kadang bos tipe ini pemalu dan linglung. Atau, saking sibuknya dengan pekerjaannya, sampai-sampai tidak sadar akan kebiasaannya mengganggu orang-orang di sekitarnya.
Bila Anda sudah bicara padanya dan dia tetap tidak mengerti, buat standar Anda sendiri untuk mengevaluasi. Jangan merasa bersalah bila Anda memerlukan waktu untuk urusan pribadi. Keseimbangan bekerja adalah hak Anda. Bila perusahaan tempat Anda bekerja termasuk tipe perusahaan yang pilih kasih, ingatkan atasan Anda akan kejanggalan antara peraturan dan kebiasaan.

DUA PILIHAN Dia kasar. Dia senang melihat Anda susah. Dia memiliki binatang piaraan yang amat disayangi tetapi Anda tidak termasuk di dalamnya. Kadang bos yang jahat adalah tipe pemberi pekerjaan di luar batas kemampuan. Pepatah mengatakan, di balik muka yang kasar tersimpan hati yang lembut, Bila Anda berhadapan muka dengannya, apakah dia akan meminta maaf atau marah? Lupakan tipe atasan Anda. Yang terpenting adalah berbicara padanya karena mungkin dia tidak menyadari kebiasaannya. Jangan menyamaratakan kepribadiannya. Lebih baik bicara secara spesifik dan ungkapkan apa yang Anda rasakan. Lakukan tanpa harus memepermalukannya. Misalnya dengan mengatakan, “Mungkin Bapak tidak tahu….” atau “Mungkin Ibu tak menyadari…” atau “Mungkin sebetulnya Bapak tidak bermaksud …” Bila tidak satu pun strategi berhasil, Anda punya dua pilihan. Bila Anda mempunyai alasan pribadi untuk tetap bekerja di perusahaan tersebut (entah karena mencintai pekerjaan Anda, bisa belajar banyak diperusahaan ini, menyukai teman-teman kerja ) Anda dapat bertahan dan acuhkan atasan Anda sedapat mungkin. Pilihan lain, berhenti dari situ. Ingat, hidup terlalu singkat untuk berurusan dengan penyalahgunaan seperti yang Anda hadapi!

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan Komentar